Air Terjun Toroan dan Budaya Carok di Madura

22.47 berri anam 12 Comments



Air Terjun Toroan
Air Terjun Toroan - Foto : pinterest.com
Memasuki hari kedua acara FamsTrip bersama Plat-M untuk manapaki Jejak BPWS di Madura yang menjadi tujuan pertama dihari kedua ini yaitu wisata Air Terjun Toroan.
Air terjun Toroan Sampang adalah satu–satunya air terjun yang berada di kota Madura. Air terjun setinggi 20 meter ini berlokasi berdampingan dengan sebuah pantai. Hal inilah yang menjadikan air terjun ini berbeda dengan air terjun pada umumnya. Selain itu, suasana di sekeliling Air Terjun Toroan juga masih sangat natural, dimana di sekitar lokasi tidak ada bangunan bangunan yang merusak kealamiannya. Hal itulah yang menjadikan air terjun  ini seakan memiliki “jiwa” yang masih hidup.

Air tawar yang mengalir dari atas air terjun langsung menyatu dengan air laut yang berada di sebuah muara. Keunggulan dari tempat wisata ini adalah kesegaran air yang dimilikinya, yang dikelilingi dengan pepohonan yang sangat rindang. Aliran air yang dibawanya berasal dari sungai Payung yang berada di Kecamatan Timur Kota Sampang.

Tepat di lokasi air terjun terdapat batu – batuan yang unik dan pasir putih di sepanjang bibir pantai, perpaduan yang sangat menakjubkan. namun saya peringatkan kepada teman-teman bahwa Air Terjun Toroan tidak boleh dibuat berenang karena terdapat palung yang sangat dalam. Sudah ada beberapa korban meninggal karena nekat berenang ataupun terjatuh.

Ilustrasi Carok Menduniakan Madura

Budaya Carok di Madura
Buaya Carok
Setelah mengeksplor wisata Air Terjun Toroan dan mengabadikannya dalam bentuk gambar dan video para peserta FamsTrip langsung menuju spot berikutnya yaitu TPI Pasongsongan. namun dalam perjalanan saya sebagai panitia ditunjuk sebagai aktor untuk memperkenalkan budaya carok yang sebenaranya yang telah menjadi budaya di Pulau Madura akan tetapi budaya itu mulai dikenal dengan sebuah kekerasan yang melekat pada diri orang Madura sehingga orang Madura memiliki pandangan yang sangat negatif dimata orang-orang yang berada diluar Pulau Madura. kronologi pengenalan carok ini dimulai dengan sebuah adegan penyegatan Bus Pariwisata yang membawa rombongan FamsTrip yang didalamnya sudah ada aktor kedua sebagai korban ( Vicky Faisal ) oleh sebuah mobil Avanza yang saya tumpangi, tepat dijalan raya yang lumayan lebar dan sepi adegan itu dimulai lalu Bus yang dicegat itu langsung menginjak rem secara mendadak yang membuat rombongan kaget seketika, lalu keluar dari mobil dengan wajah garang bak penuh amarah dengan membawa Sekep Are' ( senjata yang diselipkan dipinggang berupa celurit) dan mengedo-gedor pintu bus dan menghampiri korban lalu mengklarifikasi atas masalah keluarga yang saya alami yaitu menanyakan sejauh mana hubungan perselingkuhan antara korban dengan istri saya yang merupakan titik permasalahan namun si korban mengelak dan saya langsung mengeluarkan dua Celurit, satu untuk saya berikan kepada korban dan satunya untuk saya sendiri dengan mengacung-acungkan lalu menetapkan kesepakatan tanggal dan hari kapan akan dilaksanakannya carok tersebut apabila korban masih mengelak maka seketika itu pula carok bisa terjadi.

untuk lebih jelasnya mari kita baca penjelasan pendek mengenai budaya carok dan sepeti apa penyebab dan syarat untuk melakukan budaya itu.

Budaya Carok
Carok dalam bahasa Kawikuno artinya perkelahian. Biasanya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar. Carok adalah sebuah pembelaan harga diri ketika diinjak-injak oleh orang lain, yang berhubungan dengan harta, tahta, dan wanita. Intinya adalah demi kehormatan, Sebenarnya budaya carok yang sudah menjadi ikon bagi orang Madura, sampai detik ini masih belum jelas asal-muasalnya. Berdasarkan legenda rakyat, adalah bermula dari perkelahian antara Pak Sakera dengan dua bersaudara, Markasan dan Manbakri, yang antek-antek Belanda. Pada abad ke-18 M.Setelah Pak Sakera tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, JawaTimur,

Penyebab Eksistensi Carok
1.
Alam yang gersang. Teror eceran berbentuk carok merajalela akibat alam gersang, kemiskinan, dan ledakan demografis. Pelembagaan kekerasan carok terkait erat dengan mentalitas egolatri (pemujaan martabat secara berlebihan) sebagai akibat tidak langsung dari keterpurukan ekologis (ecological scarcity). Lingkungan sosial mengondisikan lelaki Madura merasa tidak cukup hanya berlindung kepada Tuhan. Konsekuensinya senjata tajam jadi atribut ke mana kaum lelaki bepergian yang ditunjukkan dengan kebiasaan ”nyekep”. Senjata tajam dianggap sebagai kancana sholawat (teman shalawat).
2.
Persetujuan sosial melalui ungkapan-ungakpan. Ungkapan-ungkapan Madura memberikan persetujuan sosial dan pembenaran kultur tradisi carok. Ungkapan-ungkapan tersebut diantaranya : Mon lo’ bangal acarok ja’ ngako oreng Madura (Jika tidak berani melakukan carok jangan mengaku sebagai orang Madura); oreng lake’ mate acarok, oreng bine’ mate arembi’ (laki-laki mati karena carok, perempuan mati karena melahirkan); ango’an poteya tolang etembang poteya mata (lebih baik berputih tulang [mati] daripada berputih mata [menanggung malu]).
3.
Proteksi berlebihan terhadap kaum wanita. Carok refleksi monopoli kekuasaan laki-laki. Ini ditandai perlindungan secara berlebihan terhadap kaum perempuan sebagaimana tampak dalam pola pemukiman kampong meji dan taneyan lanjang. Solidaritas internal antar penghuni kampong meji sangat kuat sedangkan dalam lingkup sosial lebih luas solidaritas cenderung rendah. Pelecehan atas salah satu anggota komunitas dimaknai sebagai perendahan martabat seluruh warga kampong meji.
4.
Taneyan lanjang (halaman memanjang), memberikan proteksi khusus terhadap anak perempuan dari segala bentuk pelecehan seksual. Semua tamu laki-laki hanya diterima di surau yang terletak di ujung halaman bagian Barat. Martabat istri perwujudan dari kehormatan kaum laki-laki karena istri dianggap sebagai bantalla pate (alas kematian). Mengganggu istri merupakan bentuk pelecehan paling menyakitkan bagi lelaki Madura
4.
Upaya meraih status sosial. Carok oleh sebagian pelakunya dipandang sebagai alat untuk meraih status sosial di dunia blater. Kultur blater dekat dengan unsur-unsur religio-magis, kekebalan, bela diri, kekerasan, dunia hitam, poligami, dan sangat menjunjung tinggi kehormatan harga diri. Blater, memiliki peran sentral sebagai pemimpin informal di pedesaan. Figur blater sejajar posisinya dengan figur kyai (Madura : keyae) sebagai sosok pemimpin informal di Madura Bahkan banyak di antara mereka yang menjadi kepala desa. Tentu saja, masyarakat cenderung takut, bukan menaruh hormat, kepada kepala desa bekas blater itu, mengingat asal-usulnya yang kelam. Tidak seperti figur kyai yang disegani dan dihormati karena kemampuannya dalam keagamaan.
6.
Blater di Madura juga kerap dihubungkan dengan remo. Tradisi remo (arisan kaum blater) merupakan institusi budaya pendukung dan pelestari eksistensi carok. Remo berfungsi ganda, sebagai tempat transaksi ekonomi, sekaligus penguatan status sosial. Juga merupakan sarana untuk membangun jaringan sosial di kalangan bromocorah. Remo bisa mengumpulkan uang dalam jumlah besar dalam tempo semalam.
Prasyarat Carok
Persiapan untuk melakukan carok, termasuk memenuhi 3 syarat utama, yaitu kadigdajan, tampeng sereng, dan banda.
1.
Kadigdajan (kapasitas diri) adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kesiapan diri secara fisik dan mental. Prasyarat fisik dapat berupa penguasaan teknik bela diri. Prasyarat mental, pengertiannya lebih terkait dengan apakah orang tersebut punya nyali, angko (pemberani), ataupun juga jago.
2.
Tampeng sereng, menyangkut kepemilikan kekuatan yang diperoleh secara non-fisik, seperti membentengi diri sehingga kebal terhadap serangan musuh. Untuk maksud ini, pelaku carok meminta bantuan seorang “kiai”, yang akan melakukan “pengisian” mantra-mantra ke badan pelaku carok. Aktifitas berkunjung ke seorang ”kiai” ini disebut nyabis.
3.
Prasyarat ketiga adalah tersedianya banda (dana). Dalam konteks ini, carok mempunyai dimensi ekonomi, karena carok membutuhkan banyak biaya. Biaya diperlukan antara lain untuk melakukan persiapan mental dengan menebus mantra-mantra yang diperlukan, dan membeli celurit dengan kualitas nomor satu, dan juga diperlukan sebagai persiapan untuk menyelenggarakan kegiatan ritual keagamaan bagi pelaku carok yang kemungkinan terbunuh (selamatan 7 hari, 40 hari, 100 hari, hingga 1000 hari sejak kematian). Selain itu, juga untuk biaya hidup sanak keluarga (istri dan anak) yang kemungkinan ditinggal mati atau ditinggal masuk penjara. Untuk pelaku carok yang masih hidup, maka dana dibutuhkan untuk nabang
Nah itulah penjelasan mengenai Budaya Carok yang  sebenarnya di Madura, semoga penjelasan diatas memberikan  gambaran luas untuk mengubah pemikiran negatif terhadap orang Madura pada umumnya.

Kembali ke FamsTrip....

TPI Pasongsongan
Foto Bersama Pengelola TPI Pasongsongan
Perjalananpun dilanjutkan menuju TPI Pasongsongan untuk melihat kondisi pelabuhan ikan terbesar yang ada di Madura yang dikelola langsung oleh Provinsi Jawa Timur, disini kami yang melihat-lihat saja aktifitas nelayan dan para pelelang ikan karena waktu yang kami punya hanya 15 menit saja sedangkan perjalanan kami hari ini masih panjang dan membutuhkan waktu lama untuk sampai ke lokasi karena harus menggunakan perahu.

dimanakah tempat selanjutnya yang akan kita kunjungi? penasaran ya.. Trip selanjutnya adalah Gili Iyang yang terkenal dengan Pulau Oksigen Terbaik kedua dunia itu. namun cerianya tidak disini tapi dipostingan berikutnya BPWS Fasilitasi penghuni Pulau Oksigen : Gili Iyang

Baca juga tulisan ini

12 komentar:

  1. Sumpah.... gara2 #menduniakanmadura jadi tau CAROK itu apa,, gmn latar belakang sejarahnya,,, makasih Plat-M.... Kalian Luar Biasa,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mas radit.
      yuk carok yuk !
      hehehe

      Hapus
    2. Aku juga baru Carok ini kemarin. Aku jadi paham kenapa dulu banyak orang-orang luar Madura yang memandang 'buruk/gahar' orang-orang Madura. Mungkin karena adanya Carok ini ya....

      Hapus
  2. Betul mas Firman. namun yang sampai ditekinga orang itu berbeda dengan kenyataanya.
    jadi kelihatan jahat deh orang Madura itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, perlu diluruskan melalui postingan ini :D supaya masyarakat bisa kenal lebih dekat carok itu bagaimana dan untuk apa.

      Hapus
    2. Betul mas. Terima kasih ya sudah berkunjung ke blog saya

      Hapus
  3. air terjunnya terlalu indah eh tp kalau gk iedit cakep jg gk kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu gambar asli tidak di edit. tp bukan karyaku hehehe

      Hapus
  4. Kemarin heboh pas mau carok itu, tapi jadi tahu tentang budaya kita ternyata carok itu gentleman

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha maaf ya sudah bikin kaget.
      kebanyakan terjadinya carok itu masalah wanita, namun sekarang sudah jarang dilakukan denga cara gentleman.

      Hapus
  5. Sayang sekali jauh om tempatnya dengan rumah saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau sudah diniatkan akan terasa dekat.
      btw, sampean orang mana?

      Hapus